Program Perkuliahan Karyawan
UNIVERSITAS LINGGABUANA PGRI

UNIVERSITAS LINGGABUANA PGRI

UNLIP SUKABUMI
Karier dan Pendidikan

Tanda Pengajar Kewarganegaraan Siap Melanjutkan Kuliah S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Kenali tanda pengajar kewarganegaraan siap kuliah jurusan S1 PPKn, dari melatih diskusi kontekstual hingga menyiapkan belajar sambil tetap bekerja.

Tanda Pengajar Kewarganegaraan Siap Melanjutkan Kuliah S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Mengajar kewarganegaraan tidak selalu berhenti pada menjelaskan materi tentang hak, kewajiban, nilai kebangsaan, atau kehidupan bersama.

Di ruang belajar, pertanyaan peserta didik sering berkembang dari hal-hal yang mereka lihat sehari-hari.

Mengapa aturan perlu dipatuhi?

Bagaimana menyampaikan pendapat dengan tetap menghargai orang lain?

Apa arti mempunyai hak sekaligus kewajiban?

Bagaimana hidup bersama ketika orang mempunyai pandangan yang berbeda?

Pertanyaan seperti ini membuat pekerjaan pengajar menjadi lebih dari sekadar menyampaikan materi.

Kamu juga perlu membantu peserta didik menghubungkan pembahasan dengan kehidupan yang benar-benar mereka temui.

Semakin sering mengajar, mungkin kamu mulai merasa bahwa contoh yang terlalu jauh dari keseharian kurang mudah dipahami.

Sebaliknya, ketika pembahasan menggunakan situasi yang dekat, peserta didik bisa lebih aktif bertanya dan berdiskusi.

Dari sini muncul kebutuhan baru.

Bagaimana memilih isu sehari-hari yang relevan?

Bagaimana menjaga diskusi tetap terarah?

Bagaimana menghubungkan pengalaman peserta didik dengan nilai kebangsaan, hukum, hak, kewajiban, dan pendidikan warga negara?

Ketika pertanyaan tersebut mulai membuatmu ingin belajar lebih dalam, itu dapat menjadi salah satu tanda kesiapan melanjutkan S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Kesiapan bukan berarti kamu harus sudah menjadi pengajar yang sempurna.

Kesiapan dapat mulai terlihat ketika kamu ingin melatih diskusi isu sehari-hari sebagai bagian dari pembelajaran kewarganegaraan yang lebih kontekstual.

 

Saat pengajaran kewarganegaraan mulai membutuhkan pendekatan lebih dalam

Coba ingat salah satu pembelajaran yang pernah kamu pandu.

Materinya mungkin sudah disiapkan.

Pokok pembahasan sudah jelas.

Namun, kemudian ada peserta didik yang menghubungkan materi dengan situasi di lingkungan sekolah, keluarga, atau masyarakat.

Pertanyaannya terasa sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan penjelasan yang lebih terstruktur.

Di titik ini, pengajar tidak hanya membutuhkan pengetahuan materi.

Kamu juga perlu memikirkan:

Bagaimana menjadikan pertanyaan itu sebagai bahan belajar?

Bagaimana melibatkan peserta didik lain?

Bagaimana menghindari diskusi yang hanya berisi saling menyatakan pendapat tanpa arah?

Bagaimana membawa percakapan kembali pada tujuan pembelajaran?

Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa kebutuhanmu mulai bergerak dari mengetahui materi menuju mengelola proses pembelajaran.

 

Kamu mulai ingin membuat materi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari

Pembelajaran kewarganegaraan mempunyai banyak konsep yang dapat terasa abstrak jika hanya dijelaskan secara definisi.

Hak.

Kewajiban.

Aturan.

Kehidupan bersama.

Nilai kebangsaan.

Hukum.

Konsep tersebut dapat menjadi lebih mudah dibahas ketika mempunyai konteks.

Misalnya bukan hanya bertanya:

“Apa yang dimaksud hak dan kewajiban?”

Kamu dapat mengajak peserta didik melihat situasi sehari-hari.

Apa hak seseorang ketika menggunakan fasilitas bersama?

Apa kewajibannya?

Apa yang terjadi jika semua orang hanya menuntut hak tetapi mengabaikan kewajiban?

Pertanyaan seperti ini membuat pembelajaran bergerak dari hafalan menuju pemahaman.

Ketika kamu mulai tertarik membangun pembelajaran seperti itu secara lebih konsisten, kebutuhan belajar juga mulai mempunyai arah.

 

Kamu mulai bisa menjelaskan tujuan melanjutkan kuliah

Salah satu tanda kesiapan adalah ketika alasan kuliah tidak lagi terlalu umum.

Bukan hanya:

“Saya ingin punya gelar S1.”

Tetapi:

“Saya ingin memperdalam cara mengajarkan kewarganegaraan melalui diskusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.”

Atau:

“Saya ingin mempunyai dasar yang lebih kuat untuk menghubungkan materi hak, kewajiban, hukum, dan kehidupan bersama dengan situasi yang dipahami peserta didik.”

Tujuan seperti ini mempunyai hubungan langsung dengan pekerjaan.

Coba lengkapi kalimat:

“Jika saya melanjutkan S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, hal yang paling ingin saya kembangkan adalah...”

Mungkin jawabannya:

kemampuan memandu diskusi;

memilih contoh yang kontekstual;

mengembangkan materi;

memahami dasar kewarganegaraan;

atau memperkuat keterampilan mengajar.

Satu tujuan yang cukup jelas sudah dapat menjadi awal kesiapan belajar.

 

Kamu mulai menggunakan pertanyaan peserta didik sebagai bahan belajar

Pertanyaan dari peserta didik dapat menunjukkan bagian materi yang membutuhkan penjelasan lebih dalam.

Daripada sekadar menjawab lalu melanjutkan pelajaran, kamu dapat mencatat pertanyaan tersebut.

Misalnya:

Pertanyaan peserta didik: mengapa sebuah aturan diperlukan?

Kemudian kamu dapat menuliskan:

Apa konsep yang berkaitan?

Bagaimana menjelaskannya secara sederhana?

Contoh kehidupan sehari-hari apa yang dapat digunakan?

Apa pertanyaan lanjutan yang dapat membuka diskusi?

Cara seperti ini mengubah pengalaman mengajar menjadi bahan refleksi.

Kamu mulai belajar dari proses pembelajaran yang sudah dijalani.

 

Kamu mulai ingin memandu diskusi, bukan hanya memberikan jawaban

Dalam pembelajaran kontekstual, pengajar tidak selalu harus menjadi orang pertama yang memberikan seluruh jawaban.

Kadang pertanyaan dapat dikembalikan kepada peserta didik.

Misalnya:

“Menurut kalian, apa akibatnya jika aturan ini tidak ada?”

Atau:

“Siapa saja yang terdampak oleh keputusan tersebut?”

Kemudian peserta didik diberi ruang untuk menjelaskan alasan.

Peran pengajar adalah menjaga pembahasan tetap terarah.

Meluruskan bagian yang belum tepat.

Dan menghubungkan diskusi kembali dengan materi.

Ketika kamu mulai ingin mengembangkan kemampuan seperti ini, kamu tidak lagi hanya memikirkan isi pelajaran.

Kamu mulai memikirkan desain pembelajarannya.

 

Kamu mulai memilih isu yang cukup dekat dengan peserta didik

Diskusi tidak harus selalu menggunakan persoalan besar.

Situasi sederhana justru dapat lebih mudah digunakan.

Misalnya kehidupan di kelas.

Penggunaan fasilitas bersama.

Aturan sekolah.

Pembagian tanggung jawab.

Cara menyampaikan pendapat.

Atau bagaimana menyelesaikan perbedaan dalam kegiatan bersama.

Hal yang penting adalah hubungannya dengan tujuan pembelajaran.

Sebelum membawa suatu isu ke kelas, tanyakan:

Apa yang ingin dipelajari dari isu ini?

Konsep apa yang berkaitan?

Pertanyaan apa yang dapat digunakan?

Apa batas pembahasannya?

Cara berpikir seperti ini membantu pembelajaran tetap kontekstual tanpa kehilangan arah.

 

Kamu mulai membedakan diskusi dengan perdebatan tanpa tujuan

Diskusi pembelajaran bukan sekadar membuat peserta didik saling berbicara.

Ada tujuan yang perlu dicapai.

Ada konsep yang perlu dipahami.

Ada alasan yang perlu dijelaskan.

Ketika peserta didik mempunyai pandangan berbeda, kamu dapat mengajak mereka bertanya:

Apa alasannya?

Informasi apa yang digunakan?

Apa dampaknya bagi pihak lain?

Bagaimana pandangan tersebut berhubungan dengan materi?

Dengan begitu, perbedaan pandangan tidak berhenti pada “setuju” atau “tidak setuju”.

Diskusi digunakan untuk melatih kemampuan menjelaskan alasan dan memahami sudut pandang lain.

 

Kamu mulai memperhatikan cara peserta didik menyampaikan alasan

Dalam pembelajaran kewarganegaraan, jawaban tidak selalu hanya berbentuk satu kata.

Peserta didik perlu belajar menjelaskan alasan.

Misalnya seseorang menyatakan bahwa suatu aturan penting.

Tanyakan:

Mengapa?

Siapa yang terbantu?

Apa yang terjadi jika aturan tidak dijalankan?

Pertanyaan lanjutan membantu peserta didik membangun penjelasan.

Sebagai pengajar, kamu juga mulai mempunyai bahan untuk melihat bagaimana pemahaman mereka berkembang.

 

Kamu mulai membangun suasana diskusi yang saling menghargai

Diskusi tentang kehidupan bersama dapat menghasilkan pendapat yang berbeda.

Karena itu, cara berdiskusi juga menjadi bagian penting dari pembelajaran.

Kamu dapat mulai membangun kebiasaan sederhana.

Tidak memotong pembicaraan.

Mendengarkan sampai selesai.

Menanggapi gagasan, bukan menyerang orangnya.

Menjelaskan alasan.

Bersedia memperbaiki pandangan setelah mendapat informasi baru.

Kebiasaan seperti ini membantu diskusi menjadi ruang belajar.

Bukan hanya tempat menyampaikan opini.

 

Kamu mulai membuat catatan setelah pembelajaran

Setelah kelas selesai, luangkan beberapa menit untuk refleksi.

Tuliskan:

Topik: apa yang dibahas?

Pertanyaan utama: apa yang digunakan untuk membuka diskusi?

Respons peserta didik: bagian mana yang paling aktif?

Bagian yang sulit: apa yang belum berjalan?

Perbaikan: apa yang ingin dicoba pada pertemuan berikutnya?

Catatan seperti ini tidak harus panjang.

Namun, jika dilakukan berulang, kamu mulai melihat pola dalam cara mengajar.

 

Kamu mulai bersedia menerima masukan

Pengalaman mengajar memang berharga.

Namun, pembelajaran juga dapat berkembang melalui umpan balik.

Mungkin pertanyaannya terlalu luas.

Mungkin contoh yang digunakan belum cukup dekat.

Mungkin diskusi terlalu lama pada satu bagian.

Mungkin sebagian peserta didik belum mendapat kesempatan berbicara.

Masukan seperti ini dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran.

Kesiapan belajar terlihat ketika kamu bersedia bertanya:

Apa yang dapat diperbaiki?

Mengapa pendekatan ini kurang efektif?

Bagaimana cara lain yang dapat dicoba?

 

Kamu mulai memperkuat komunikasi

Data sumber menyebut komunikasi sebagai salah satu kemampuan yang perlu diperkuat.

Bagi pengajar, komunikasi tentu sudah menjadi bagian dari pekerjaan.

Namun, tetap ada ruang untuk berkembang.

Apakah pertanyaan cukup jelas?

Apakah instruksi diskusi mudah dipahami?

Apakah istilah yang digunakan terlalu rumit?

Apakah kamu benar-benar mendengarkan respons peserta didik?

Apakah kamu dapat merangkum diskusi dengan bahasa sederhana?

Kemampuan seperti ini membantu pembelajaran menjadi lebih terarah.

 

Kamu mulai memperkuat dasar materi pelajaran

Pengalaman mengajar tidak berarti seluruh materi harus sudah dikuasai secara sempurna.

Ada topik yang mungkin masih perlu diperdalam.

Ada konsep yang perlu dibaca kembali.

Ada pertanyaan peserta didik yang membuatmu sadar bahwa penjelasan sendiri masih belum cukup kuat.

Kamu dapat mulai membuat daftar:

Materi apa yang paling sering diajarkan?

Bagian mana yang sudah cukup dipahami?

Bagian mana yang perlu dipelajari kembali?

Pertanyaan apa yang paling sering membuatmu berpikir?

Daftar tersebut dapat menjadi peta kebutuhan belajar.

 

Kamu mulai mengembangkan keterampilan mengajar secara sadar

Data sumber juga menyebut keterampilan mengajar sebagai bagian yang perlu diperkuat.

Kamu dapat memulainya dari aktivitas sederhana.

Misalnya ketika ingin menggunakan diskusi.

Tentukan:

Apa tujuan diskusinya?

Apa pertanyaan pembukanya?

Berapa lama waktunya?

Bagaimana peserta didik dilibatkan?

Bagaimana diskusi ditutup?

Apa yang harus dipahami setelahnya?

Dengan cara ini, diskusi tidak hanya muncul spontan.

Kamu mulai merancangnya sebagai bagian dari pembelajaran.

 

Kamu memahami hubungan S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dengan pekerjaanmu

Program S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Linggabuana PGRI dalam sumber mempelajari nilai kebangsaan, hukum, dan pendidikan warga negara.

Bagi pengajar kewarganegaraan, bidang tersebut mempunyai hubungan langsung dengan aktivitas mendampingi peserta didik memahami hak, kewajiban, dan kehidupan bersama.

Pengalaman mengajar sudah memberimu situasi nyata.

Perkuliahan dapat memberi ruang untuk mempelajari bidang tersebut secara lebih terstruktur.

Jika sedang mempertimbangkan program ini, kamu dapat mempelajari S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UNLIP Sukabumi.

Saat membaca informasinya, hubungkan dengan kebutuhanmu.

Misalnya:

“Saya ingin memperdalam cara mengajarkan kewarganegaraan melalui diskusi yang kontekstual.”

Atau:

“Saya ingin mempunyai dasar yang lebih kuat untuk menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.”

Hubungan seperti ini membuat tujuan pendidikan semakin konkret.

 

Kamu mulai membuat satu latihan diskusi sederhana

Sebelum kuliah dimulai, kamu dapat menguji kebiasaan baru.

Pilih satu topik yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Kemudian buat empat bagian:

Situasi: apa yang terjadi?

Konsep: materi apa yang berkaitan?

Pertanyaan: apa yang ingin didiskusikan?

Refleksi: apa yang ingin dipahami peserta didik?

Misalnya menggunakan situasi pembagian tanggung jawab dalam kegiatan bersama.

Pertanyaan pembukanya dapat sederhana:

“Apa yang terjadi jika semua orang ingin memperoleh manfaat, tetapi tidak ada yang mau menjalankan tanggung jawab?”

Dari situ, diskusi dapat diarahkan pada hubungan antara hak dan kewajiban.

Latihan seperti ini membantu mengubah keinginan belajar menjadi tindakan kecil.

 

Kamu mulai mengembangkan pertanyaan terbuka

Pertanyaan terbuka membuat peserta didik perlu menjelaskan.

Misalnya daripada bertanya:

“Apakah aturan penting?”

Kamu dapat bertanya:

“Mengapa sebuah kelompok membutuhkan aturan?”

Atau:

“Apa yang mungkin terjadi jika setiap orang menggunakan aturan yang berbeda?”

Pertanyaan seperti ini memberi ruang berpikir lebih luas.

Namun, tetap perlu diarahkan pada tujuan pembelajaran.

Kemampuan menyusun pertanyaan dapat terus dilatih.

 

Kamu mulai belajar merangkum diskusi

Setelah peserta didik menyampaikan berbagai pendapat, pengajar perlu membantu menarik benang merah.

Misalnya:

Apa gagasan yang paling sering muncul?

Di mana perbedaannya?

Konsep apa yang perlu ditekankan?

Apa hubungan diskusi dengan materi hari itu?

Kemampuan merangkum membantu peserta didik melihat bahwa diskusi bukan percakapan yang terpisah dari pembelajaran.

Ada pemahaman yang dibangun dari proses tersebut.

 

Kamu mulai membangun rutinitas belajar

Kesiapan pendidikan juga terlihat dari kebiasaan.

Mulailah sederhana.

Misalnya:

satu sesi membaca materi;

satu sesi menyiapkan pertanyaan diskusi;

satu sesi membuat refleksi dari pengalaman mengajar.

Tidak perlu setiap hari.

Yang penting dapat dilakukan secara konsisten.

Kebiasaan seperti ini membantu ketika nantinya harus membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan.

 

Kamu mulai menyiapkan waktu kuliah bersama pekerjaan

Data program mencantumkan jadwal:

Senin: 16.00–21.00
Selasa: 16.00–21.00
Rabu: 16.00–21.00
Jumat: 17.00–21.00
Sabtu: 14.00–21.00

Sumber menyebut kelompok jadwal tersebut sebagai Kelas Malam, tetapi beberapa pertemuan dimulai sejak sore hari.

Bagi pekerja, jam aktual tersebut perlu diperhatikan.

Apakah pekerjaan selesai sebelum pukul 16.00?

Bagaimana perjalanan menuju kegiatan kuliah?

Apakah Sabtu masih menjadi hari kerja?

Kapan tugas dan bacaan dapat diselesaikan?

Pertanyaan seperti ini membantu membawa rencana pendidikan ke rutinitas nyata.

 

Kamu mulai membuat simulasi satu minggu

Coba tuliskan jadwal pekerjaan selama seminggu.

Kemudian tambahkan jadwal kuliah yang tersedia.

Senin sampai Rabu mulai pukul 16.00.

Jumat pukul 17.00.

Sabtu pukul 14.00.

Setelah itu tambahkan waktu perjalanan, makan, belajar mandiri, dan istirahat.

Dari simulasi tersebut kamu dapat melihat bagian mana yang membutuhkan penyesuaian.

Tidak harus semuanya langsung sempurna.

Yang penting, rencana mulai diuji berdasarkan kehidupan sehari-hari.

 

Kamu mulai memahami pola Blended Learning

Data program mencantumkan metode Blended Learning.

Detail penerapannya tidak dijelaskan lebih lanjut dalam sumber.

Karena itu, kamu dapat menyiapkan beberapa pertanyaan:

bagaimana pembelajaran langsung dan daring dibagi;

apakah seluruh jadwal membutuhkan kehadiran;

bagaimana sistem kehadiran;

bagaimana diskusi dan tugas dilakukan;

serta apakah terdapat kegiatan pembelajaran tambahan.

Informasi awal dapat dipelajari melalui halaman S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UNLIP Sukabumi.

Bagian yang belum jelas dapat dikonfirmasi kepada pihak kampus.

 

Kamu mulai memeriksa latar pendidikan

Data sumber menyebut SMA/MA IPS atau semua peminatan serta SMK Administrasi, Perkantoran, atau bidang layanan publik sebagai latar yang relevan.

SMA/MA/SMK jurusan lain juga tetap mungkin.

Namun, komunikasi, dasar materi pelajaran, dan keterampilan mengajar perlu diperkuat.

Pengalaman mengajar dapat menjadi modal.

Tetapi persyaratan penerimaan mahasiswa yang berlaku tetap perlu diperiksa sesuai ketentuan kampus.

 

Kamu mulai menyiapkan biaya pendidikan

Data program mencantumkan:

Biaya formulir: Rp100.000

Herregistrasi: Rp500.000

Sehingga total biaya awal sebesar Rp600.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp497.000 per bulan.

Selain biaya tersebut, kamu dapat memperhitungkan kebutuhan pribadi lain.

Transportasi.

Makan sebelum atau setelah kelas.

Internet.

Perangkat.

Buku atau bahan belajar.

Dan kebutuhan akademik lain yang mungkin muncul.

Perencanaan seperti ini membantu membuat keputusan pendidikan semakin konkret.

 

Kamu mulai melibatkan orang di sekitar

Kuliah pada beberapa hari kerja dan Sabtu dapat mengubah rutinitas.

Karena itu, komunikasi dengan keluarga atau orang terdekat dapat membantu.

Jika pekerjaan juga berlangsung pada sore atau akhir pekan, penyesuaian dapat mulai dipikirkan.

Tujuannya bukan menunggu semua kondisi menjadi sempurna.

Yang dibutuhkan adalah mengetahui perubahan apa yang perlu disiapkan.

 

Empat pertanyaan untuk melihat kesiapanmu

Tidak ada skor tertentu yang menentukan pengajar kewarganegaraan sudah siap melanjutkan S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Namun, empat pertanyaan berikut dapat membantu:

  1. Apakah pengalaman mengajar membuat saya ingin mengembangkan diskusi isu sehari-hari sebagai bahan pembelajaran yang lebih kontekstual?
  2. Apakah saya mulai mempunyai tujuan belajar yang jelas mengenai materi dan keterampilan mengajar?
  3. Apakah saya bersedia memperkuat komunikasi, dasar materi, dan kemampuan memandu pembelajaran?
  4. Apakah saya mulai menyiapkan waktu, biaya, dan rutinitas belajar agar pendidikan dapat berjalan bersama pekerjaan?

Tidak semua jawabannya harus langsung sempurna.

Kesiapan dapat tumbuh bertahap.

Yang penting, pengalaman mengajar sudah mulai menghasilkan tindakan belajar yang konkret.

 

Pengalaman mengajar dapat menjadi modal belajar

Ketika masuk kuliah, kamu tidak datang tanpa pengalaman.

Kamu sudah pernah menjelaskan hak dan kewajiban.

Memandu pembelajaran tentang kehidupan bersama.

Menjawab pertanyaan peserta didik.

Menghadapi perbedaan pendapat.

Dan mungkin mencoba menghubungkan materi dengan peristiwa sehari-hari.

Pengalaman tersebut memberikan konteks.

Saat mempelajari pendidikan warga negara, kamu mempunyai situasi nyata.

Ketika membahas nilai kebangsaan atau hukum dalam konteks pembelajaran, kamu sudah mengetahui pertanyaan seperti apa yang dapat muncul dari peserta didik.

Pengalaman tidak menggantikan pendidikan.

Namun, pengalaman dapat membuat proses belajar lebih mudah dihubungkan dengan pekerjaan.

 

Langkah kesiapan berikutnya bersama UNLIP Sukabumi

Bagi pengajar kewarganegaraan dan pekerja bidang pendidikan di Sukabumi dan sekitarnya yang ingin memperdalam pembelajaran kontekstual sambil tetap bekerja, salah satu program yang dapat dipelajari adalah Kelas Karyawan UNLIP Sukabumi melalui P2K S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada data yang tersedia tercatat memiliki akreditasi Baik Sekali.

Institusi Universitas Linggabuana PGRI tercatat berakreditasi Baik.

Lulusan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Program menggunakan metode Blended Learning dengan jadwal:

Senin: 16.00–21.00
Selasa: 16.00–21.00
Rabu: 16.00–21.00
Jumat: 17.00–21.00
Sabtu: 14.00–21.00

Untuk pembiayaan, biaya awal tercatat sebesar Rp600.000, terdiri dari formulir Rp100.000 dan herregistrasi Rp500.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp497.000 per bulan.

Kamu dapat mempelajari bidang studinya melalui Program S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UNLIP Sukabumi.

Informasi mengenai kampus dan program lainnya juga tersedia melalui website UNLIP Sukabumi.

Sebelum mengambil langkah berikutnya, coba pilih satu topik pembelajaran yang sering kamu ajarkan.

Kemudian buat catatan:

Topik: apa yang ingin dipelajari?

Situasi sehari-hari: contoh apa yang dekat dengan peserta didik?

Pertanyaan diskusi: apa yang dapat digunakan untuk membuka pembahasan?

Konsep: hubungan apa yang ingin dijelaskan?

Refleksi: apa yang ingin peserta didik pahami setelah diskusi?

Lakukan latihan tersebut pada satu atau dua topik terlebih dahulu.

Jika kamu mulai menikmati proses mengubah isu sehari-hari menjadi bahan diskusi yang terarah, kebutuhan belajarmu semakin jelas.

Kamu dapat mempelajari kembali S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas Karyawan UNLIP Sukabumi sambil membawa daftar tujuan belajar dan pertanyaan mengenai program yang masih ingin diketahui.

 

Tanda siap melanjutkan kuliah tidak berarti kamu sudah harus menguasai seluruh cara mengajar kewarganegaraan.

Bagi pengajar kewarganegaraan, kesiapan dapat terlihat ketika pengalaman mengajar mulai membuatmu ingin membangun pembelajaran yang lebih kontekstual, kamu bersedia mencoba diskusi secara terarah, serta mulai menyediakan ruang untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan mengajar.

Selama ini kamu mungkin sudah terbiasa menjelaskan materi tentang hak, kewajiban, dan kehidupan bersama.

S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat menjadi langkah berikutnya untuk memperkuat bagaimana materi tersebut dihubungkan dengan situasi sehari-hari dan diolah menjadi proses pembelajaran yang lebih hidup dan terstruktur.